24 Februari 2009

Siti Fatimah dan cinta abadi (The Legend of Pulau Kemaro) #Part1

Menjelang Sore ditepi Musi, Siti fatimah duduk berdiam diri menatap jauh kementari yang perlahan-lahan mulai meredup.
Sesekali terdengar sorak-sorai burung menyambut ikan dipermukaan Musi.
Ada terbesit rasa gundah di hati Fatimah, sebuah kekosongan ditengah megahnya Istana Sriwijaya.
Tapi entah kekosongan apa gerangan yang di rasakan.

"Beribu maaf tuan Putri, hari mulai gelap, ada baiknya kita kembali menuju Istana sebelum Ayahanda Putri marah besar" suara dari dayang-dayang yang memecah lamunan Fatimah...
"Baiklah dayang, mari kita menuju Istana" sahut Fatimah

Disebuah negeri yang bernama Tiongkok...
"Yang Mulia, Pangeran Tan berkata bahwa dirinya tidak dapat hadir dijamuan makan malam ini dikarenakan beliau merasa tidak enak badan" lapor seorang Prajurit dengan tergesah-gesah.
"Baiklah, perintahkan kepada tabib Istana untuk memeriksa keadaanya" Tihta sang Kaisar.

Lalu, jamuan makan malam itu berlangsung hening tanpa ada pembahasan sama sekali mengenai keadaan Negeri Tiongkok seperti biasanya.

Disebuah jendela bertabir sutra, seorang Pemuda tampan sedang menatap rembulan yang bersinar terang. Hatinya semakin galau tatkala dia mendapat tihta dari sang Kaisar untuk berlayar ke Selatan. Entah kenapa perjalanan kali ini terasa sangat berat dilaluinya, mungkin dikarenakan dia tak mampu untuk meninggalkan kekasih hatinya di Tiongkok.

Namun apabila seorang Kaisar yang telah bertihta, maka apa daya untuk menolaknya. Bahkan untuk seorang Pangeran Istana sekalipun tak mampu untuk berkata tidak.
Sementara malam semakin larut, Bintang-bintang semakin cerah bersinar. Sesekali segaris cahaya putih melintas di angkasa, seolah langit sedang mengerdipkan mata menggoda sang Pangeran. Namun Pangeran tak kunjung tersenyum dengan godaan manis itu. Dia tetap menghela nafas dibalik tirai sutra nan halus.

To be Continued to part #2

0 komentar:

Posting Komentar

Blog ini adalah blog Dofollow, tinggalkan pesan disini untuk mendapatkan Backlink...